Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ: Jalan Iman Seorang Patriot

Sumber https://www.youtube.com/watch?v=MEE_vmfy8pU

Tayangan dokumenter di MetroTV pada rubrik Melawan Lupa yang bertajuk “Jalan Iman Seorang Patriot: Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ”.

Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ (lahir 25 November 1896 – meninggal 22 Juli 1963 pada umur 66 tahun), lebih dikenal dengan nama lahir Soegija, merupakan Vikaris Apostolik Semarang, kemudian menjadi Uskup Agung. Ia merupakan uskup pribumi Indonesia pertama dan dikenal karena pendiriannya yang pro-nasionalis, yang sering disebut “100% Katolik, 100% Indonesia”.

Soegija dilahirkan di Surakarta, Hindia Belanda, dari keluarga seorang abdi dalem dan istrinya. Keluarga Muslim itu lalu pindah ke kota Yogyakarta saat Soegija masih kecil, dan, karena diakui sebagai anak yang cerdas, pada tahun 1909 Soegija diminta oleh Romo Frans van Lith SJ seorang misionaris Katolik dari Belanda, untuk bergabung dengan Kolese Xaverius, sebuah sekolah Yesuit di Muntilan.

Di sana Soegija menjadi tertarik dengan agama Katolik, dan dibaptis pada tanggal 24 Desember 1910. Setelah lulus dari Xaverius pada tahun 1915 dan menjadi seorang guru di sana selama satu tahun, Soegija menghabiskan dua tahun belajar di seminari di Muntilan sebelum berangkat ke Belanda pada tahun 1919.

Ia menjalani masa pendidikan calon biarawan dengan Serikat Yesus selama dua tahun di Grave; ia juga menyelesaikan juniorate di sana pada tahun 1923.

Setelah tiga tahun belajar filsafat di Kolese Berchmann di Oudenbosch, ia dikirim kembali ke Muntilan sebagai guru; ia bekerja di sana selama dua tahun. Pada tahun 1928 ia kembali ke Belanda untuk belajar teologi di Maastricht, dan ditahbiskan pada tanggal 15 Agustus 1931. Setelah itu Soegija menambahkan kata “pranata” di belakang namanya. Pada tahun 1933 Soegijapranata dikirim kembali ke Hindia Belanda untuk menjadi Imam/Pastor/Romo dalam Gereja Katolik.

Soegijapranata memulai keimamannya sebagai Vikaris Paroki untuk Romo van Driessche di Paroki Kidul Loji, Yogyakarta, tetapi diberi paroki sendiri setelah Gereja St. Yoseph di Bintaran dibuka pada tahun 1934. Dalam periode ini ia berusaha untuk meningkatkan rasa ke-Katolikan dalam masyarakat Katolik dan menekankan perlunya hubungan yang kuat antara keluarga Katolik.

Pada tahun 1940 Soegijapranata ditahbis sebagai Vikaris Apostolik dari Vikariat Apostolik Semarang, yang baru didirikan. Meskipun jumlah pemeluk Katolik meningkat, Soegijapranata harus menghadapi berbagai tantangan. Kekaisaran Jepang menduduki Hindia Belanda pada awal tahun 1942, dan selama periode pendudukan itu banyak gereja diambil alih dan banyak pastor serta rohaniwan/rohaniwati Katolik yang ditangkap atau dibunuh. Soegijapranata bisa lolos dari kejadian ini, dan menghabiskan periode pendudukan dengan mendampingi umat Katolik dalam Vikariatnya sendiri.

Soegijapranata juga dikenal sebagai imam Katolik pertama yang menyesuaikan dan mengembangkan ajaran Katolik berdasarkan adat ketimuran. Ia menentang anggapan bahwa gereja identik dengan kolonial Belanda. Pada masa penjajahan Jepang, beliau bersikap tegas terhadap Jepang yang ingin menggunakan gereja sebagai markas. Bersama Mgr. Willekens, S.J., Soegijapranata pun menghadap ke penguasa Jepang supaya Rumah Sakit St. Carolus dapat terus beroperasi.

Sampai dengan sekarang Soegijapranata masih dihormati oleh bangsa Indonesia, baik pemeluk Katolik maupun bukan. Berbagai biografi tentang ia sudah ditulis oleh berbagai penulis, dan pada tahun 2012 sebuah film biopik fiksi garapan Garin Nugroho besutan Studio Audio Visual PUSKAT, yang diberi judul Soegija, diluncurkan.

Video Copyright:
Metro TV © 2017
http://www.metrotvnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.